Sholawat Nabi

Posted on

Kali Ini kita akan membahas materi tentang sholawat nabi yang meliputi adab dan kewajiban bersholawat kepada nabi muhammad shalallahu alaihi wasallam

Sholawat Nabi

 
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
“Sesungguhnya Allah dan malaikatnya bershalawat kepada nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan juga ucapkanlah salam untuknya.” (Qs. Al- Ahzab: 56).
 
Sholawat untuk Nabi shollollohu ‘alaihi wa sallam ada dua.
Waktu dan Tempat untuk Bersholawat.

 

1. Shalawat mutlak.
2. Pertama, shalawat mutlak.
3. Tasyahud awal atau akhir.
4. Selesai adzan.
5. Pada hari jumat.

 

6.Setiap pagi dan sore.
7. Ketika di Majlis.
8.Ketika menyebut Nama Nabi saw.
9. Saat berdoa.

 

10. Saat masuk dan keluar masjid.

 

11. Saat menyolatkan jenazah.
12. Makam Nabi saw.
13. Setelah mebaca doa qunut diakhiri dengan membaca sholawat.
Kasiat Membaca sholawat nabi.
Di antara keutmaan membaca sholawat kepada Nabi SAW.
Sebagai berikut:

 

1. Alloh akan membaca shalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali lipat.
2. Rasulullah SAW akan membaca shalawat untuk dirinya.
3. Para malaikat akan membaca shalawat untuknya.
4. Barangsiapa membaca shalawat untuk Nabi, maka ia akan diangkat derajatnya, ditambah kebaikannya dan dihapuskan keburukannya.
5. Ia bagaikan memerdekakan sepuluh hamba sahaya yang dimerdekakannya karena Allah SWT.

 

6. Membaca shalawat merupakan sebab diampuninya dosa-dosa yaitu berdasarkan keimanan seorang mukmin, kecintaannya dan keikhlasannya dalam membaca shalawat untuk Rasulullah.
7. Membuat shalawat memintakan ampun bagi yang membacanya dan menemaninya dalam alam kuburnya.
8. Beliau akan memberikan syafaat kepada orang yang membacanya.
9. Dapat menjauhkan seseorang yang membacanya dari kefakiran, mendapatkan limpahan kebaikan dan keberkahan.

Adab membaca sholawat

Adab membaca sholawat yaitu;

1). Suci dari najis.

2), Berwudlu.

3). Menghadap kiblat (lebih utama).

4). Berfikir tentang dzat Nabi Muhammad saw yang mulia (Sifat, perilaku dan perkataanya).

5). Membaca dengan segenap jiwa dan perasaan

6). Meresapi mankna shalawat yang di baca ( makna kalimat, huruf & Sirrnya)

7). Membaca dengan penuh tawadu’ (dhohir & Bathin) dan lillahi ta’ala

8). Meyakinkan hati bahwasanya beliu adalah suri tauladan yang utama yang wajib di contoh

9). Membaca secara tartil masing- masing huruf sholawat.

10). Berfikir tentang dzat Nabi Muhammad saw yang mulia (Sifat, perilaku dan perkataanya).

11). Tidak tergesa- gesa pada kalimat- kalimat sholawat.

kewajiban Sholawat Nabi

Alloh berfirman di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56:
 
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu membaca shalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan bersalamlah dengan sebenar-benarnya salam.”

 

Berangkat dari ayat ini para ulama sepakat bahwa hukum membaca shalawat kepada Nabi Muhammad adalah wajib bagi setiap orang mukmin. Pun demikian dengan hukum bersalam kepada beliau.

Ibnu Abdil Barr sebagaimana dikutip oleh Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani menuturkan:
 
أجمع العلماء على أن الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فرض على كل مؤمن بقوله تعالى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا
 
Para ulama telah sepakat bahwa bershalawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah wajib bagi setiap orang mukmin berdasarkan firman Allah: wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan bersalamlah dengan sebenar-benarnya salam.” (Yusuf bin Ismail An-Nabhani, Afdlalus Shalawât ‘alâ Sayyidis Sâdât, Jakarta, Darul Kutub Islamiyah, 2004, hal. 12)
 
Meski demikian para ulama berbeda pendapat tentang kapan waktu kewajiban membaca shalawat tersebut. Imam Qurtubi meyatakan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di dalam kewajiban membaca shalawat sekali seumur hidup. Membaca shalawat juga wajib dilakukan dalam setiap waktu dengan kewajiban layaknya sunnah muakkadah.
 
Ibnu Athiyah menyampaikan bahwa bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam setiap keadaan adalah suatu kewajiban sebagaimana wajibnya sunnah-sunnah muakkadah tidak meninggalkan dan melalaikannya kecuali orang-orang yang tak memiliki kebaikan.
Adapun bagi Imam Syafi’i membaca shalawat kepada Nabi adalah suatu kewajiban yang mesti dilakukan dalam setiap kali shalat, yakni pada waktu duduk tasyahud akhir. Dalam mazhabnya ini menjadi salah satu rukun qauli yang meningalkannya berakibat pada tidak sahnya shalat yang dilakukan.
Baca Juga :  Lirik, Teks Sholawat Assalamu ‘Alaika Zainal Anbiyaa Beserta Arti dan Video

 

Sebagian ulama mazhab Maliki sependapat dengan apa yang ditetapkan oleh Imam Syafi’i. Sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa wajib memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi tanpa menentukan bilangannya.

Artikel Lainnya :

sholawat-nabi-2

sholawat-badar

dzikir-dan-doa-setelah-sholat