Sejarah Perang Padri-Strategi Dan Sebab nya

Posted on

Kali ini kita akan membahas materi tentang sejarah perang padri yang meliputi Strategi Perang Dan Sebab nya singkat dan lengkap

Penjelasan Sejarah Perang Padri

Perang Padri ini tidak jauh berbeda dari Perang Sipil. Ini adalah perang saudara antara penduduk Sumatra Barat. Sejak munculnya perselisihan antara sekelompok ulama Islam yang disebut Padri dan masyarakat adat di Kerajaan Pagaruyun dan sekitarnya. Padri percaya bahwa kebiasaan masyarakat adat bertentangan dengan hukum Islam.

Kebiasaan yang berlawanan, seperti perjudian, sabung ayam, penggunaan narkoba, penggunaan alkohol dan penggunaan hukum matriarkal untuk mendistribusikan warisan. Padahal sebelumnya, masyarakat adat mengklaim bahwa mereka telah masuk Islam dan mengatakan bahwa mereka akan meninggalkan kebiasaan yang bertentangan dengan hukum Islam.

Perilaku masyarakat adat ini membuat marah Padri, dan pada tahun 1803 terjadi perang saudara. Perang saudara antara Mandiling dan Minang. Pemimpin Padri adalah harimau Nan Salapan, dan masyarakat adat dipimpin oleh Sultan Arifin Mounningsyah.

Tetapi pada tahun 1833, perang Padri berubah dari perang saudara menjadi perang melawan penjajah. Awalnya adalah karena fakta bahwa penduduk asli bahkan meminta bantuan Belanda pada tahun 1821. Sayangnya, keterlibatan Belanda membuat keadaan semakin kacau dan kompleks. Belanda sebaliknya ikut campur dalam kehidupan masyarakat adat. Alih-alih menghadapi dua musuh yang sama, Padri dan Belanda, penduduk asli mulai berperang melawan Belanda dan bergabung dengan Padri. Pada akhirnya, kelompok etnis Minang dan Mandyling berkumpul untuk mengalahkan penjajah.

Perang Padri adalah perang melawan penjajah yang banyak berkorban. Awal mula waktu yang lama, harta benda dan banyak jiwa. Hasil akhir perang ini akhirnya dimenangkan oleh Belanda. Konsekuensi lain, seperti runtuhnya Kerajaan Pagaruyun, kemerosotan ekonomi orang Minang, membuat orang meninggalkan zona konflik.

Baca Juga :  Wr Supratman-Agama, Perjuangan, Biografi Dan Karyanya

Sebab Terjadinya Perang Padri

Prasyarat untuk perang dengan Padri dimulai dengan keinginan Padri, yang ingin meningkatkan moral masyarakat Minangkabau. Haji Sumanik, haji miskin dan haji Piobang pada waktu itu kembali dari Mekah dan ingin meningkatkan Syariah Islam masyarakat Minangkabau.

Datang Tuanka Nan Rensh, yang memiliki keinginan yang sama dengan tiga peziarah dan mendukungnya. Niat mulia mereka menarik banyak orang. Termasuk tokoh dan cendekiawan Minangkabau bernama Harimau Nan Salapan. Sejarah Islam di Indonesia juga memainkan peran penting di Sumatera Barat.

Harimao Nan Salapan dan Tuanku Lintau datang ke Istana Pagaruyun untuk bertemu dengan Sultan Arifin Mounningshah dan masyarakat adat untuk menjauh dari kebiasaan melawan hukum Islam. Negosiasi sedang berlangsung, tetapi sulit bagi masyarakat adat dan sawah untuk mencapai kesepakatan.

Pada saat yang sama, beberapa nagari di kerajaan Pagaruyun mulai tidak menentu. Sampai 1815, Tuanku Pasaman memimpin Padri untuk menyerang Koto Tanga, yang merupakan milik Kerajaan Pagaruyun.

Sultan Arifin Mounningsyah terpaksa mengungsi dari ibukota. Dalam catatannya, Thomas Stamford Ruffles, yang mengunjungi Kerajaan Pagaruyun pada tahun 1818, hanya melihat reruntuhan Istana Pagaruyun yang terbakar.

Strategi-Strategi 

  • Meminta Bantuan Belanda
  • Regroup dan Gerilya
  • Gencatan Senjata
  • Menguasai Titik Vital
  • Bersatu Kita Teguh
  • Penyerangan Imam Bonjol

Nasib Terakhir Tuanku Imam Bonjol

Padri dan Aliansi Masyarakat Adat lemah dan lelah. Terus berlari dan bersembunyi, Tuanku Imam Bonjol terus berusaha menyatukan kekuatan Sumatera Barat.

Ini wajar karena mereka terus berjuang hingga batasnya. Sampai Imam Bonjol memindahkan Tuanku ke Belanda. Dia ditangkap dan dideportasi ke berbagai tempat. Mulai dari Cianjur, Ambon dan Minahasa. Akhirnya dia meninggal di tempat pengasingannya.

Akhir Perang Padri

Akhir yang buruk untuk semua orang Minangkabau. Tuanku Imam Bonjol ditangkap, dan Belanda merebut benteng Bonjol pada tahun 1837. Perang berlanjut sampai pada tanggal 28 Desember 1838, Belanda dikalahkan oleh pertahanan terakhir Padri di Rokan Hulu. di Negeri Sembilan, yang terletak di Semenanjung Melayu. Semua perlawanan rakyat Minangkabau ditekan oleh Belanda. Padangse Bovenlanden, di bawah kendali Hindia Belanda dan Kerajaan Pagaruyung, akhirnya menjadi bagian dari Pax Netherlandica

Baca Juga :  VOC - Sejarah, Tujuan Dan Sistemnya Singkat Lengkap

Ini adalah informasi tentang sejarah perang Padri. Mulai dari latar belakang, sebab, proses terjadi hingga akhir cerita. Kami berharap bahwa informasi ini dapat menambah pemahaman tentang kisah pembaca sambil menghormati perjuangan nenek moyang kita, terutama orang-orang Sumatera Barat dalam perang melawan kolonialisme.

Artikel Lainnya :

peninggalan-kerajaan-demak-sejarah-peninggalan-dan-peta-lokasinya/

doa-sebelum-berhubungan

doa-taubat