Rukun Puasa

Posted on

Rukun Puasa – Berdasarkan kesepakatan ulama, rukun puasa yaitu menahan diri dari berbagai pembatal puasa yaitu mulai dari terbit fajar (fajar shodiq) smpai terbenamnya matahari.

rukun puasa
rukun puasa

Rukun Puasa

Hal ini berdasarkan firman Alloh SWT Surat Al Baqoroh ayat 187

Al Baqoroh ayat 187
Al Baqoroh ayat 187

Dari ‘Adi bin Hatim saat turun surat Al Baqarah ayat 187,

Nabi Muhammad SAW berkata padanya,

إِنَّمَا ذَاكَ بَيَاضُ النَّهَارِ مِنْ سَوَادِ اللَّيْلِ

“Yang dimaksud yaitu terangnya siang dari gelapnya malam”. Nabi SAW mengatakan seperti itu pada ‘Adi bin Hatim sebab sebelumnya ia mengambil dua benang hitam dan putih. Lalu menanti kapan munculnya benang putih dari benang hitam, tetapi ternyata tak kunjung nampak. Lantas ia menceritakan hal tersebut pada Rosulullah SAW, kemudian beliau pun menertawai kelakukan ‘Adi bin Hatim

Baca juga : Puasa Ramadhan

Syarat Wajib Puasa

Syarat wajib puasa adalah ciri ciri seseorang yang diwajibkan berpuasa pada bulan romadhon Syarat wajibnya puasa yaitu:

  1. islam
  2. berakal
  3. sudah baligh
  4. mengetahui akan wajibnya puasa.

Syarat Wajibnya Penunaian Puasa

Syarat wajib penunaian puasa, artinya ketika mendapati waktu tertentu, maka dikenakan kewajiban puasa. Syarat yang dimaksud yaiyu sebagai berikut.

1 . Sehat (tidak sakit)

2 . Menetap, tidak dalam keadaan bepergian .

Dalil kedua syarat ini adalah firman Alloh SWT dalam Surat Al baqoroh ayat 185

Kedua syarat ini termasuk syarat wajib penunaian puasa dan bukan syarat sah puasa dan bukan juga syarat wajibnya qodho’ puasa. Sebab syarat wajib penunaian puasa di sini gugur pada orang yang sakit dan orang yang bersafar atau bepergian jauh.

Ketika mereka tak berpuasa saat itu, barulah menjalankan qodho’ berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun apabla mereka tetap berpuasa dalam keadaan demikian, puasanya tetap sah.

Baca Juga :  Sejarah Aswaja Lengkap

3 . Suci dari haidh dan nifas.

Dalilnya yaitu hadits dari Mu’adzah, ia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Hadits tersebut yaitu

.

Dari Mu’adzah dia berkata:

“Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah?

Aku menjawab,

‘Aku bukan Haruriyah, namun aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’.”

Berdasarkan kesepakatan para ulama wanita yang ada dalam keadaan haidh dan nifas tidak wajib berpuasa dan wajib mengqodho’ puasanya

Baca juga : Tentang Darah Perempuan

Syarat Sah Puasa

Syarat sahnya puasa ada 2 , yaitu seperti rangkuman dibawah ini

Yang Pertama

Harus ada dalam keadaan suci dari haidh serta nifas. Syarat ini merupakan syarat kewajiban puasa dan juga sekaligus syarat sahnya puasa.

Yang Kedua

Berniat. Niat adalah syarat sah puasa karena puasa yaitu ibadah sedangkan ibadah tidaklah sah kecuali dengan niat yang sebagaimana ibadah yang lain.

Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi Muhammad SAW

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal itu bergantung dari niatnya.”

Niat puasa harus dilakukan guna membedakan dengan menahan lapar lainnya. Menahan lapar bisa jadi sekedar kebiasaan, atau dalam rangka diet, atau juga karena sakit sampai harus dibedakan dengan puasa yang menjadi ibadah.

Namun, para pembaca perlu ketahui bahwasanya niat itu bukanlah diucapkan (dilafadzkan). Karena yang dimaksud niat yaitu kehendak untuk melakukan sesuatu dan niat letaknya ada di hati. Semoga Alloh merahmati An Nawawi rahimahullah –ulama besar dalam Syafi’iyah- yang mengatakan,

“Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat yaitu dalam hati, tidak disyaratkan diucapkan. Masalah ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.”

Baca Juga :  Idgham Bilagunnah

Namun sebagian ada yang melafadzkan atau mengucapkan niat, itu untuk memperkokoh hati agar tidak lalai bahwa esok harinya akan berpuasa

Ibnu Taimiyah mengatakan,

“Niat itu ada di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.”