Rukun Iman

Posted on

Rukun Iman adalah tiang fondasi keimanan dari seorang muslim, jika ia mempunyai dan mengamalkan rukun iman, maka dia akan mempunyai keimanan yang kuat.

Pengertian Iman

Iman (الايمان) ialah bahasa Arab yang secara bahasa artinya adalah percaya atau membenarkan dengan hati.

Rukun iman merupakan pilar-pilar keimanan dalam Islam yang wajib dimiliki setiap muslim. Jumlahnya ada enam. Enam rukun iman didasarkan dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Jibril yang ada dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab.

iman
iman

Rukun Iman ada 6

yaitu :

  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada para Malaikat Allah
  3. Iman kepada kitab-kitab Allah
  4. Iman kepada para Rasul
  5. Iman kepada hari Kiamat
  6. Iman kepada Takdir (Qhodo & Qhodar)

1. Iman kepada Allah

Seseorang tidak bisa dikatakan beriman kepada Alloh hingga ia mengimani 4 hal:

  • Mengimani adanya Alloh SWT.
  • Mengimani rububiah Alloh, bahwa tidak ada yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta beserta isinya kecuali Alloh.
  • Mengimani uluhiah Allah, bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Alloh dan mengingkari semua sembahan selain Alloh SWT.
  • Mengimani semua nama-nama dan sifat Alloh (al-Asma’ul Husna) yang Alloh tetapkan untuk diri-Nya dan yang nabi-Nya tetapkan untuk Alloh, serta menjauhi sikap menghilangkan makna, memalingkan makna, mempertanyakan, dan menyerupakan Nya.

2. Iman kepada para malaikat Alloh

Mengimani adanya malaikat sebagai makhluk ciptaan Alloh SWT, beserta amalan dan tugas yang diberikan Alloh kepada para malaikat tersebut.
Jumlah malaikat tidak ada seorangpun yang tahu dan hanya Alloh SWT yang mengetahuinya berapa jumlahnya
Malaikat diciptakan Alloh SWT dari cahaya

Baca Juga :  Mad Badal

Orang islam wajib mengimani 10 malaikat yaitu:

Malaikat Jibril
Malaikat Mikial
Malaikat Rakib
Malaikat Atid
Malaikat Mungkar
Malaikat Nakir
Malaikat Izrail
Malaikat Israfil
Malaikat Malik
Malaikat Ridwan

3. Iman kepada kitab-kitab Alloh

Mengimani bahwa seluruh kitab Alloh SWT.

Mengimami bahwa kitab suci yang diturunkan oleh Alloh SWT. Kitab suci itu ada 4 (empat) :

  1. Kitab Suci Taurat
  2. Kita Suci Zabur
  3. Kitab Suci Injil
  4. Kitab Suci Al-Qur’an

Muslim harus mengimani bahwa Al-Qur’an merupakan penggenapan kitab-kitab suci yang terdahulu.

4. Iman kepada para rosul Alloh

Mengimani bahwa ada di antara laki-laki dari kalangan manusia yang Alloh SWT pilih sebagai perantara antara diri-Nya dengan para makhlukNya.

Namun mereka semua tetap berwujud manusia biasa yang sama sekali tidak mempunyai sifat-sifat dan hak-hak ketuhanan, karenanya menyembah para nabi dan rosul adalah kebatilan yang nyata.

Wajib mengimani bahwa semua wahyu kepada nabi dan rosul itu merupakan benar dan bersumber dari Alloh SWT. Juga wajib mengakui setiap nabi dan rosul yang kita ketahui namanya dan yang tidak kita ketahui namanya.

5. Iman kepada hari akhir

Mengimani tanda-tanda hari kiamat. Mengimani hari kebangkitan di padang mahsyar hingga berakhir di Surga atau Neraka.

6. Iman kepada qada dan qadar

yaitu takdir yang baik dan buruk: Mengimani kejadian yang baik dan yang buruk, semua itu atas izin dari Alloh. Karena seluruh makhluk tanpa terkecuali, zat dan sifat mereka demikian pula perbuatan mereka melalui kehendak Ilahi.

Menurut istilah, Iman mempunyai 3 poin yang amat penting
yaitu:

  • Membenarkan dengan hati.
  • Mengikrarkan dengan lisan.
  • Dan, mengamalkan dengan anggota badan.

Penjelasan Arti Iman

  • Membenarkan dengan hati
    maksudnya menerima segala apa yang di bawa oleh Rasullullah adalah benar.
  • Mengikrarkan dengan lisan
    maksudnya mengucapkan dua kalimah syahadat “Laa ilaha illallahu wa anna Muhammadan Rasullullah” (tidak ada yang layak di sembah kecuali Allah SWT dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah).
  • Mengamalkan dengan anggota badan
    maksudnya setelah hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan, Lalu anggota badan mengamalkan dalam bentuk ibadah-ibadah sesuai dengan fungsinya.
Baca Juga :  Tayammum

Cinta tanah air adalah bagian dari iman menurut Nabi Ibrohim, Baca juga : cinta tanah air

Tingkatan iman

Dalam pandangan Islam dikenal beberapa tingkatan seseorang dalam keyakinan beragama, diantaranya yaitu:

  • Muslim
    yaitu seorang yang mengaku islam, namun kadar keimanannya termasuk yang rendah, sebatas pengakuan Allah sebagai tuhan yang esa, belum ada bedanya dengan iblis yang juga meyakini bahwa Allah adalah maha esa,
  • Mu’min
    adalah orang beriman, yang mengkaji syariat Islam hingga meningkat wawasan keislamannya
  • Muhsin
    yaitu orang yang memperbaiki segala perbuatannya agar menjadi lebih baik,
  • Mukhlis
    adalah orang yang ikhlas dalam beribadah, hidupnya hanya untuk mengabdikan kepada Allah
  • Muttaqin
    yaitu orang yang bertakwa, ini adalah yang tertinggi di antara tingkatan lainnya

Sunni

Pengertian istilah Iman menurut sunni

Iman secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Secara istilah syar’i, iman adalah “Keyakinan dalam hati, Perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat”.

Para ulama salaf menjadikan amal adalah unsur keimanan. Oleh karena itu iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan berkurang”. Hal ini adalah definisi menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Al Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, madzhab Zhahiriyah dan segenap ulama selainnya.

Dengan begitu definisi iman memiliki 5 karakter: keyakinan hati, perkataan lisan, dan amal perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.

QS. Al Fath [48] : 4

al fath ayat 4
al fath ayat 4

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).
Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,

Imam Syafi’i berkata, “Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.” Imam Ahmad berkata, “Iman bisa bertambah dan bisa berkurang.

Baca Juga :  Niat Puasa Qodho atau Puasa Ganti Beserta Tata Caranya

Iman bertambah dengan melakukan amal, dan ia berkurang dengan sebab meninggalkan amal.” Imam Bukhari mengatakan, “Aku telah bertemu dengan lebih dari seribu orang ulama dari berbagai penjuru negeri, aku tidak pernah melihat mereka berselisih bahwasanya iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.