Rukun Haji

Posted on

suhupendidikan.com-Kali ini kita akan membahas materi tentang rukun haji yang meliputi pengertian, penjelasan, urutan, tatacara Rukun Haji lengkap dengan gambar.

Haji adalah salah satu ibadah yang membutuhkan waktu yang lama dan persiapan yang matang. hingga menjadikan ibadah ini menjadi salah satu layanan yang mempertaruhkan banyak hal, waktu, energi, kekayaan, dan keluarga. Kita bahkan dapat membayangkan dalam proses rukun haji yang dilaksanakan di Mekah dalam kondisi di padang pasir.

Prosesnya sulit dan perlu mempersiapkan banyak hal sehingga ibadah selalu bisa khusyuk dan khidmat. Karena itu, calon jamaah haji yang akan melakukan haji harus mengetahui prihal rukun dan syarat haji, sehingga mereka selalu tahu dan mengerti dan memahami perihal tentang cara dan pelaksanaan ibadah haji harus dilakukan dengan baik dan benar. Sehingga tertib dan menjadi Haji Mabrur.

Urutan Rukun Haji

Niat

Niat atau ihram, di rukun haji yaitu meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa pada saat ini tubuh itu dipertemukan dengan rumah pencipta. Jadi itu harus diterapkan dengan cara yang diinginkan. Seperti sholat untuk niat, berbicara dengan bibir. Jadi itu akan sesuai dengan apa yang dilakukan.

Tetapi ada juga mereka yang hanya ingin menggunakan hati, yang juga diperkenankan oleh hadits shohih. Niat untuk melakukan ibadah haji ini ditandai dengan penggunaan pakaian ihram untuk pria dan wanita. Segala bentuk ibadah dalam melaksanakan ibadah haji memiliki jumlah dan tata cara yang sangat banyak. Sehingga perlu bagi para jamaah untuk memahaminya.

Ihram dan niat menjadi satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan, karena menjadi rukun haji berarti menjadi sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Tidak ada toleransi ketika sudah membahas sampai pada rukun haji. Demikian juga, pelaksanaan dan pakaian yang digunakan dalam melaksanakan ibadah haji ditentukan, dan seharusnya tidak ada penemuan atau ide baru tentang hal ini.

Baca Juga :  Qalqalah

Memulai dengan niat dan benar-benar meyakini berarti telah mengiklaskan dengan sepenuh hati, melalui panggilan ilahi untuk menggerakkan hati seorang hamba kepada Rabb nya. Niat itu penting karena sebagai awal saat melakukan ibadah haji. Jika niatnya berbeda, maka ibadah haji tidak akan berjalan lancar.

Mengapa niat ini hal yang paling penting bagi para jamaah haji untuk dapat memposisikan diri ingin beribadah di hadapan Ka’bah. Memaksimalkan ibadah atau hanya sekadar liburan.

Wukuf di Arafah

Pelaksanaan ibadah haji setelah niat dan mengenakan pakaian ihram, yaitu penerapan ketenangan diri. Para jamaah yang melakukan wukuf di Padang Arafat ini melakukan banyak hal, dan salah satunya adalah menyebutkan nama Allah dan memuliakan segala bentuk doa dan memohon pengampunan atas kesalahan yang dibuat ketika mereka bertindak dan berbicara.

Kali ini hanyalah sebagian kecil dari penerapan haji, yang merupakan inti dari semuanya yaitu, untuk merendahkan dirinya di hadapan Rabb, yang mana telah melakukan banyak dosa. Sehingga rukun haji menerapkan pola permintaan maaf kepada Sang Pencipta. Berdiam diri tidak berarti diam tanpa melakukan apa-apa saat melakukan Wukuf.

Tepat ketika melakukan ibadah haji dan wukuf dilaksanakan dan para jamaah melakukan doa sepanjang hari, ini dapat dianggap sebagai ibadah yang benar-benar ingin dimaksimalkan oleh seorang jamaah. Tetapi ada juga mereka yang tidak memaksimalkan momen wukuf ini karena mereka memiliki niat berbeda. Tetap saja, ketika wukuf maka semua kegiatan adalah doa.

Ketika doa, dzikir dan berserah diri dilakukan dengan benar dan serius, maka dampak secara psikologi akan meningkatkan energi positif pada diri seorang jamaah. Jadi mengapa, ketika para jamaah pulang setelah ibadah haji ini tentu akan memiliki efek dalam hal sikap dan sifat para jamaah

Baca Juga :  Bacaan Tasbih

Dapat mengubah sikap yang ada di antara jamaah haji menjadi lebih tenang dan pendiam. Karena memang merupakan rangkaian rukun haji ini, tetapi meskipun begitu makna dan tujuan dari setiap rukun haji ini senantiasa untuk dijalankan, karena jika satu rukun haji saja tidak dilakukan, maka tidak termasuk sah dalam ibadah hajinya.

Thawaf Ifadhah

Mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali harus dilakukan oleh seorang jamaah yang melakukan haji. Kami tahu bahwa ketika Anda mengelilingi Kabah ini, itu menjadi rukun haji, jadi itu harus dilakukan untuk seorang jamaah, bahkan jika kondisinya tidak memungkinkan. Itulah mengapa penting untuk menjaga tubuh tetap bugar.

Kondisi dan cuaca di Mekah memaksa para jamaah untuk memperhatikan diri mereka sendiri. Setelah melakukan wukuf di padang arafah dengan suhu tinggi, dilanjutkan dengan Tawaf dengan menggunakan energi ekstra karena mereka harus mengelilingi Ka’bah dengan berdesakan dengan jamaah lainnya.

Kondisinya penuh sesak hingga jatuh, dan sampai ada banyak orang yang meninggal ini sudah menjadi hal biasa karena perwujudan dari ibadah thawaf ini menuju panggilan Rabb. Memenuhi panggilan Allah SWT untuk hamba-Nya yang diperkenankan dan dikehendaki oleh Allah SWT.

Mengelilingi berarti berusaha mendekati dan menjaga Istiqomah dalam perjalanannya. Itulah yang dapat kita capai ketika kita hidup di dunia. Faktanya, setiap rukun haji memiliki makna yang mendalam antara hamba dan Tuhannya. Jadi mengapa setiap rukun haji yang ada selalu mengingatkan kepada Sang Pencipta.

Sa’i

Berlari-lari kecil dari Bukit sofa ke Bukit Marwah menjadi sebuah rukun haji yang dilakukan oleh seorang jamaah yang melakukan ibadah haji. Perjalanan atau berlari kecil ini menceritakan tentang perjuangan seorang ibu untuk menemukan seteguk air di padang pasir untuk anaknya. Namun, perjuangan itu tidak membuahkan hasil pada beberapa pencarian.

Baca Juga :  Mahzab

Setelah Istiqomah dan sabar mencari sumber mata air, kemudian mencari dengan berlari-lari kecil dari Bukit sofa ke Marwah ketujuh kalinya, maka muncullah air yang hingga saat ini masih mengalir melalui mata air, membuat kota yang dulunya hanya satu gurun tandus itu sekarang menjadi kota besar dan modern.

Ini adalah pelajaran yang diberikan Tuhan kepada para jamaah haji untuk tetap melakukan pembelajaran dan perjuangan para mujahid terdahulu.

Tahallul

Tahallul ini mencukur rambut dan janggut, menunjukkan bahwa ibadah haji ini sebenarnya pembersihan fisik dan spiritual. Ini memang terjadi karena ibadah ini mengikutsertakan fisik untuk menyelesaikan ibadah yang panjang dan berat ini. Dan secara spiritual, pasti akan ada pengalaman secara batin terkait dengan ibadah di Masjidil haram.

Jadi, ketika pelaksanaan ibadah haji ini tidak diperbolehkan untuk mencukur rambut dan kuku. Karena dalam rukun haji ini yang dimaksud adalah tahallul. meskipun hanya sekedar mencukur kuku dan rambut, itu tidak boleh dilakukan. Dengan melakukan hal itu, itu akan melanggar rukun haji ini dan, tentu saja akan mengurangi sahnya rukun haji.

Tertib

Tertib artinya telah melakukan seluruh rangkaian acara dalam pelaksanaan ibadah haji. Merasa kurang ketika tidak mampu secara langsung untuk ikut dalam melaksanakan ibadah haji. Karena ada jamaah yang memang sekedar datang karena sakit.

Artikel Lainnya :

rukun-puasa

tauhid-rububiyah

rukun-sholat-jenazah