Permintaan dan Penawaran dalam Islam Beserta Hukum Penawaran dan Faktor Yang Mempengaruhi

Posted on
permintaan dan penawaran
permintaan dan penawaran

Permintaan dan Penawaran Dalam Islam

Dalam menganalisis hal yang kompleks, para ahli biasanya melakukan penyederhanaan. Seorang ahli teknik bangunan misalnya, ketika akan membangun sebuah rumah ia mulai dengan membuat gambar teknik. Gambar itu sendiri merupakan penyederhanan, karena desain dari bangunan yang berdimensi tiga dituangkan dalam gambar berdjmensi dua. Namun dengan penyederhanan itu, seorang ahli teknik sudah bisa membuat perhitungan teknis bangunan, dan biaya yang djperlukannya.

Bagi ahli ekonomi penyederhanaan itu djlakukan pada pembatasan suatu masalah, maka ia mencoba membatasi masalah itu hanya yang dipengaruhi oleh satu dua faktor, sementara faktor-faktor lainnya djangap tetap. Dengan demikian, satu model bisa disusun atas penyederhanaan itu tadi. Abstraksi itu dilakukan dengan menggunakan istilah ceteris paribus. Artinya kalau seorang ahli tengah menganalisis ekonomi itu sangat kompleks, menyangkut hubungan antara manusia satu dengan lainnya. Tidaklah mudah bagi ahli ekonomi untuk memperkira-kan tingkah laku manusia berdasarkan perasaan, motivasi dan selera yang berbeda. Karena itulah ahli ekonomi melakukan penyederhanaan halhal yang tidak penting guna memahami bekerjanya mekanisme ekonomi yang kompleks.

Begitu pula halnya dengan upaya untuk menganalisis sistem harga, maka para ahli mendekati masalah ini dengan penyederhanaan unsurunsur pembentuk harga. Mereka membatasi unsur-unsur yang mempengaruhi mekanisme pembentukan harga dengan hanya dua faktor saja, yakni: permintaan dan penawaran.

Hukum Permintaan

Permintaan terhadap barang atau jasa didefinisikan sebagai: kuantitas barang ataujasa yang orang bersedia untuk membelinya pada berbagai tingkat harga dalam suatu periode waktu tertentu.

Dalam definisi di atas digunakan kalimat aktif: orang bersedja untuk membelinya untuk memberi penekanan pada kegiatan konsumsi yang dilakukan secara aktif oleh masyarakat konsumen, yang dipengaruhi oleh tingkat harga. Sedangkan kata ‘bersedia’ mendapat penekanan tersendiri. Di dalamnya terkandung makna, bahwa konsumen memiliki keinginan untuk membeli suatu barang atau jasa (dengan kata lain konsumen memiliki Hpreferensi terhadap barang atau jasa tersebut), sekaligus ia juga memiliki kemampuan, yaitu uang atau pendapatan, untuk membeli, dalam rangka memenuhi keinginannya tersebut. Ke= mampuan tersebut seringkali diberi istilah daya beli. Jadi, konsep permintaan terhadap barang dan jasa hanya memerhatikan konsumen yang memiliki preferensi dan daya beli sekaligus.

Baca Juga :  Puasa Senin Kamis

Asumsi-asumsi

Dalam analisis permintaan terhadap suatu barang atau jasa,‘ditelaah faktor-faktor yang memengaruhi besar kecilnya kuantitas atau jumlah barang/jasa yang diminta oleh konsumen. Banyak faktor yang meme-‘ ngaruhi permintaan terhadap suatu barang. Yang paling utama adalah harga dari barang itu sendiri. Selain itu, faktor-faktor selain harga barang tersebut juga memengaruhi permintaan terhadap barang itu. Contohnya adalah pendapatan masyarakat, harga barang lain, serta selera. Kita akan membahas masalah ini lebih dalam pada bagian lain dalam bab ini.

Secara umum diketahui bahwa semakin tinggi harga suatu barang, semakin kecil permintaan terhadap barang tersebut. Pernyataan di atas menerangkan hubungan antara permintaan terhadap suatu barang dengan harga barang tersebut, atau dikenal dengan ‘hukum permintaan’.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Permintaan

Seperti telah dikemukakan di depan, memang diketahui bahwa permintaan terhadap suatu barang dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di samping harga. Kita akan membahas faktor-faktor tersebut satu per satu: ‘

a. Pendapatan
Semakin tinggi pendapatan seseorang, permintaan terhadap suatu barang akan meningkat, walaupun harga barang tersebut tidak berubah.

b. Harga barang-barang lain yang terkait
Faktor lain yang juga berpengaruh adalah harga barang-barang lain yang terkait dengan barang yang sedang dianalisis. Permintaan terhadap susu murni akan meningkat apabila harga susu bubuk naik.

c .Selera
Hal lain yang memengaruhi permintaan adalah selera. Contohnya, pennintaan terhadap sepatu olahraga dengan alas tipis (seperti sepatu Bruce Lee) sekarang ini semakin rendah, sebaliknya sepatu olahraga dengan alas tebal (seperti Nike, Adidas, dan sebagainya) semakin meningkat. Hal itu terutama karena ada perubahan selera.

d .Jumlah Penduduk
Semakin besar jumlah penduduk di suatu daerah, semakin banyak permintaan terhadap suatu produk di daerah tersebut. Permintaan beras dj Indonesia setiap tahun selalu naik. Tentu saja, karena jumlah penduduk Indonesia semakin lama semakin banyak, sehingga jumlah beras yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mereka pun semakin banyak. Ini tercermin dengan permintaan beras yang selalu naik.

Baca Juga :  Cara Mandi Wajib

Teori Permintaan Islam

Hal penting yang harus dicatat adalah bagaimana teori ekonomi yang dikembangkan Barat membatasi analisisnya dalam jangka pendek yakni hanya sejauh bagaimana manusia memenuhi keinginannya saja. Tidak ada analisis yang memasukkan nilai-nilai moral dan sosial. Analisis hanya dibatasi pada variabel-variabel pasar semata seperti harga, pendapatan dan sebagainya. Variabel-variabel lain tidak dimasukkan, seperti variabel nilai moral seperti kesederhanaan, keadilan, sikap mendahulukan orang lain, dan sebagainya. Di sini kita akan membahas bagaimana agama Islam mengatur tentang konsumsi dan bagaimana hal tersebut memengaruhi hukum permintaan yang telah kita pelajari di atas.

Dalam ekonomi Islam, setiap keputusan ekonomi seorang manusia tidak terlepas dari nilai-nilai moral dan agama karena setiap kegiatan senantiasa dihubungkan kepada syariat. AlQur’an menyebut ekonomi dengan istilah iqtishdd (penghematan, ekonomi), yang secara literal berarti ‘pertengahan’ atau ‘moderat’. Seorang muslim dilarang melakukan pemborosan (lihat al-Israa ayat 26-27). Seorang muslim diminta untuk mengambil sebuah sikap moderat dalam memperoleh dan menggunakan sumber daya. Dia tidak boleh isréf (royal, berlebih-lebihan), tetapi juga dilarang pelit (bukhl).

Baca Juga :