Perbedaan Sistem Ekonomi Islam dan Konvesional

Posted on

PERBEDAAN DASAR SISTEM EKONOMI ISLAM DAN KONVENSIONAL

Perbedaan dasar antara ekonomi Islam dan konvensional boleh dilihat dari beberapa sudut yaitu:

1 . Sumber (Epistemology)

Sebagai sebuah addin yang syumul, sumbernya berasaskan kepada sumber yang mutlak yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kedudukan sumber yang mutlak ini menjadikan Islam itu sebagai suatu agama (addin) yang istimewa dibanding dengan agama-agama ciptaan lain. I Al-Qur’an dan As-Sunnah ini menyuruh kita mempraktikkan ajaran wahyu tersebut dalam semua aspek kehidupan termasuk soal muamalah. Perkara-perkara asas muamalah dijelaskan di dalam wahyu yang me-liputi suruhan dan larangan.

Suruhan seperti makan dan minum menjelaskan tentang tuntutan keperluan asasi manusia. Penjelasan Allah SWT. tentang kejadian-Nya untuk dimanfaatkan oleh manusia (QS. Yasin ayat 34-35, 72-73) (QS. an-Nahl ayat 5-8, ’14, 80) menunjukkan bahawa alam ini disediakan begitu untuk dibangunkan olehmanusia sebagai Khalifah Allah (QS. al-Baqarah ayat 30).

Larangan-larangan Allah SWT. seperti riba (QS. al-Baqarah ayat 275) pemiagaan babi, judi, arak, dan lain-lain karena perkara-perkara tersebut mencerobohi fungsi’fnanusia sebagai khalifah tadj. Oleh karena itu, sumber rujukan untuk manusia dalam semua keadaan termasuk persoalan ekonomi ini adalah lengkap. Kesemuanya itu menjurus kea pada suatu tujuan yaitu pembangunan seimbang rohani dan jasmani manusia berasaskan tauhid. Sedangkan ekonomi konvensional tidak bersumber atau berlandaskan wahyu. Oleh karena itu, ia lahir dari pemikiran manusia yang bisa berubah berdasarkan waktu atau masa sehingga diperlukan maklumat yang baru. Kalau ada ketikanya diambil dari wahyu tetapi akal memprosesnya mengikuti selera manusia sendin’ karena tujuannya mendapat pengiktirafan manusia bukan mengambil pengiktirafan Allah SWT. Itu bedanya antara sumber wahyu dengan sumber aka] manusia atau juga dikenal ‘sebagai falsafah yang lepas bebas dari ikatan wahyu.

Baca Juga :  Bacaan Sholat Maghrib

Tujuan yang tidak sama akan melahirkan implikasi yang berbeda kerana itu pakar ekonomi Islam bertujuan untuk mencapai al-falah di dunia dan akhirat, sedangkan pakar ekonomi konvensional mencoba menyelesaikan segala permasalahan yang timbul tanpa ada pertimbangan mengenai soal ketuhanan dan keakhiratan tetapi lebih mengutamakan untuk kemudahan manusia di dunia saja.

2. Tujuan Kehidupan

Tujuan ekonomi Islam membawa kepada konsep al-falah (kejayaan) di dunia dan akhirat, sedangkan ekonomi sekuler untuk kepuasan di dunia saja. Ekonomi Islam meletakkan manusia sebagai

khalifah dj muka bumi ini di mana segala bahan-bahan yang ada di

bumi dan di langit adalah diperuntukan untuk manusia . Firman Allah SWT. dalam QS. an-Nahl ayat 12-13:

Dan dia menundukkan malam dun siang, matahari dan-bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya), (QS. an-Nahl: 12)

Dan dia (menundukkan pula) apa yang dia Ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan-Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. (QS. an-Nahl: 13)

Kesemuanya bertujuan untuk beribadah kepada Allah SWT. Dalam kaitan ibadah, kita mengenal ada ibadah yang khusus ada pula ibadah yang umum. Manusia merupakan makhluk sosial (zone politicon) karena itu dalam soal pemilikan harta terdapat harta milik individu dan juga terdapat harta yang menjadi hak masyarakat umum.

3. Konsep Harta sebagai Wasilah

Di dalam Islam, harta bukanlah mempakan tujuan hidup tetapi sekadar wasilah atau perantara bagi mewujudkan perintah Allah SWT.

Tujuan hidup yang sebenamya ialah seperti firman Allah SWT. QS. a1 An’aam ayat 162:

Baca Juga :  Niat Puasa Qodho atau Puasa Ganti Beserta Tata Caranya

Katakanlah : Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam

Merealisasikan perintah Allah SWT. yang sebenarnya ini akan membawa kepada ketenangan hidup yang hakiki. Setiap Muslim percaya bahwa Allah SWT. merupakan Pencipta yang mampu memberikan ketenangan hakiki. Maka dari itu harta bukanlah tujuan utama kehidupan tetapi adalah sebagai jalan bagi mencapai nikmat ketenangan kehidupan dj dunia hingga ke alam akhirat. Ini berbeda dengan ekonomi konvensional yang meletakkan keduniaan sebagai tujuan yang tidak mempunyai kaitan dengan Tuhan dan akhirat sama sekali. Ini sudah tentu berlawanan dengan Islam. Untuk merealisasikan tujuan hidup menurut aliran konvensional ini, mereka membentuk sistemsistem yang meng-ikuti selera nafsu mereka guna memuaskan kehendak materill mereka semata.Oleh karena itu, sistem konvensional mempunyai tujuan keuntungan tanpa memedulikan nilai wahyu, maka mereka mengutamakan kepentingan individu atau kepentingan golongan tertentu serta menindas golongan atau individu yang lemah dan berprinsip siapa kuat dialah yang berkuasa (survival of the fittest).

Konsep hak milik pribadi dalam Islam bersifat unik, dalam arti bahwa pemilik mutlak segala sesuatu yang ada di bumi dan langit adalah Allah, manusia hanyalah khalifah di muka bumi. Pada umumnya terdapat ketentuan syariat yang mengatur hak milik pribadi.