Niat Buka Puasa

Posted on

Niat buka puasa yaitu khususnya buka puasa ramadhan mungkin sudah hafal diluar kepala kita, artinya yaitu mayoritas dari kita sudah menghafalnya. Karena doa ini selalu di ucapkan atau selalu di dengar selama bulan puasa penuh, baik di media TV ataupun media sosial selepas adzan maghrib.

Niat Buka Puasa

Berikut ini adalah doa berbuka puasa ketika puasa wajib yaitu puasa dibulan ramadhan setelah sebelumnya kita membahas tentang Rukun Puasa

doa berbuka puasa
doa berbuka puasa

Allohumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizkika aftortu birohmatika ya arhama rohimin

Artinya :
Ya Alloh karnaMu aku puasa, denganMu aku beriman, kepadaMu aku berserah dan dengan rizkiMu aku berbuka, dengan rahmatMU, Ya Alloh Tuhan Maha Pengasih.

Baca Juga : Batal Puasa

Video Berbuka Puasa Untuk Anak Anak

Mengenai kewajiban puasa ramadhan Alloh SWT berfirman yaitu di dalam surat Al-Baqorah ayat 183

al baqoroh ayat 183
al baqoroh ayat 183

 

Dan juga sabda Rosulullah SAW yang Artinya:

“Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda : Didirikan Islam atas 5 dasar yaitu: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan Nabi Muhammad adalah utusan Alloh. mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji jika mampu

Perbedaan Pendapat tentang Doa Berbuka Puasa

Dari Doa tersebut ada sebagian umat yang menganggap tidak shohih,dan mereka melafadzkan niat dibawah ini

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

‘Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah’

Artinya :
“Sudah hilang dahaga, urat-urat sudah basah, dan sudah diraih pahala, insya Alloh”

Akhir akhir ini doa berbuka puasa yang lama diamalkan oleh sebagian besar masyarakat dipersoalkan pada beberapa pihak. Menurut mereka, doa yang dibaca masyarakat, yaitu “Allâhumma laka shumtu wa bika âmantu wa ‘alâ rizqika afthartu,” didukung oleh hadits yang dhaif atau kurang shohih

Baca Juga :  Doa untuk Meminta Rezeki

Sejumlah pihak menawarkan alternatif lafal doa yang didukung oleh hadits shahih riwayat Abu Dawud, yaitu “Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘urûqu wa tsabatal ajru, insya Alloh.”

Pertanyaannya apakah benar jika doa berbuka puasa yang diamalkan sebagian besar masyarakat selama ini hanya bersandar pada hadits yang dhaif? jika benar kualitas hadits riwayat Abu Dawud terkait doa berbuka puasa lebih shahih dibandingkan hadits yang diamalkan oleh sebagian besar masyarakat selama ini?

Mari kita perhatikan keterangan berikut ini.

Hadits lengkap riwayat Abu Dawud berbunyi sebagai berikut:

حدثنا عبد الله بن محمد بن يحيى أبو محمد حدثنا علي بن الحسن أخبرني الحسين بن واقد حدثنا مروان يعني ابن سالم المقفع قال رأيت ابن عمر يقبض على لحيته فيقطع ما زاد على الكف وقال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

Artinya, “Kami mendapat riwayat dari Abdullah bin Muhammad bin Yahya, yaitu Abu Muhammad, kami mendapat riwayat dari Ali bin Hasan, kami mendapat riwayat dari Husein bin Waqid, kami mendapat riwayat dari Marwan, yaitu Bin Salim Al-Muqaffa‘, ia berkata bahwa aku melihat Ibnu Umar menggenggam jenggotnya, lalu memangkas sisanya. Ia berkata, Rasulullah bila berbuka puasa membaca, ‘Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘urûqu wa tsabatal ajru, insyâ Allah’,” (HR Abu Dawud)

Sementara doa buka puasa yang diamalkan masyarakat, yaitu “Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu,” bersumber dari riwayat Imam Bukhari dan Muslim sebagai keterangan Syekh M Khatib As-Syarbini berikut ini:

وأن يقول عقب فطره اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت لانه صلى الله عليه وسلم كان يقول ذلك رواه الشيخان

Baca Juga :  Doa Masuk Rumah

Artinya, “(Mereka yang berpuasa) dianjurkan setelah berbuka membaca, ‘Allâhumma laka shumtu, wa ‘alâ rizqika afthartu.’ Pasalnya, Rosulullah SAW mengucapkan doa ini yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,” (Lihat Syekh M Khatib As-Syarbini, Al-Iqna pada Hamisy Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman 385).

Kalau dilihat tingkat kesahihannya, doa riwayat Bukhari dan Muslim jelas terang dan lebih shahih dibandingkan sekadar riwayat Abu Dawud yaitu berdasarkan kesepakatan ulama ahli hadits. Dari sini jelas bahwa doa yang diamalkan masyarakat sudah benar dan didukung hadis yang shahih dan juga kuat.

Lalu bagaimana dengan doa riwayat Abu Dawud?

Karena mengetahui ada doa dari riwayat perawi lainnya, ulama dari golongan Madzhab Syafi’i menggabungkan doa riwayat Imam Bukhari dan juga Muslim dengan doa riwayat Abu Dawud.
Demikian yang disebutkan Sulaiman Bujairimi dalam Hasyiyatul Bujairimi berikut ini:

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ( ويسن أن يزيد على ذلك وَبِكَ آمَنْتُ، وَبِكَ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ. ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شاءَ اللهُ. يا وَاسِعَ الفَضْلِ اِغْفِرْ لِي الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي هَدَانِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ.

 “(Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu) dianjurkan menambahkan lafal, wa bika âmantu, wa bika wa ‘alaika tawakkaltu. Dzahabaz zhama’u, wabtallatil ‘urûqu, wa tsabatal ajru, insyâ Allah. Yâ wâsi‘al fadhli, ighfir lî. Alhamdulillâhil ladzî hadânî fa shumtu, wa razaqanî fa afthartu,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman 385).

Artinya :
“Tuhanku, hanya untukMu aku berpuasa. Dengan rezekiMu aku membatalkannya. Sebab dan kepadaMu aku berpasrah. Dahaga telah pergi. Urat-urat telah basah. Dan insya Allah pahala sudah tetap.

Baca Juga :  Do'a Kedua Orang Tua

Wahai Zat Yang Luas Karunia, ampuni aku. Segala puji bagi Tuhan yang memberi petunjuk padaku, lalu aku berpuasa. Dan segala puji Tuhan yang memberiku rezeki, lalu aku membatalkannya.”

Dari keterangan ini, kita mampu menarik simpulan bahwa para ulama yang terdahulu amat bijak dalam mengatasi perbedaan riwayat. Mereka menggabungkan 2 riwayat yang berbeda tanpa menegasikan, menyalahkan, atau juga mengecilkan riwayat lain.

Gabungan dua riwayat ini lalu disuguhkan kepada masyarakat yang kemudian diamalkan secara turun-temurun oleh mereka sampai kini. Doa ini dibaca setelah mereka membatalkan puasanya.

Saran Suhupendidikan.com sebaiknya kita sebagai manusia tidak perlu membesar-besarkan perbedaan. Kita sebaiknya tak menyalahkan doa berbuka puasa masyarakat, terlebih jika amalan mereka didukung oleh hadits yang lebih shahih dibandingkan doa alternatif yang di tawarkan. Selain itu, sebaiknya kita mencari titik temu diantara dua riwayat yang berbeda. Kebijaksanaan ini yang menjadi warisan para ulama terdahulu. Wallahu a‘lam.

Perbedaan adalah rahmat

Semoga bermanfaat